Selasa, 03 Agustus 2010

Dunia Manufaktur Membaik, Minyak Melejit ke $81

Harga minyak mentah di bursa New York berhasil melesat tajam hingga tembus US$81 per barel. Kenaikan yang signifikan ini berkat antusiasme para trader atas laporan positif dari sektor industri di negara-negara yang berpengaruh di dunia, AS, Eropa, dan China.

Menurut laman harian The Wall Street Journal, harga minyak mentah untuk kontrak September pada transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB) naik US$2,39 atau 3 persen menjadi US$81,34 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak 4 Mei lalu. Di bursa London, harga minyak Brent naik US$2,77 atau 3,5 persen menjadi US$80,95. 

Seperti di bursa saham, para trader pasar minyak menyambut baik sejumlah laporan positif di sektor industri. 

Menurut survei Institute for Supply Management, indeks aktivitas manufaktur di AS selama Juli lalu lebih baik dari proyeksi pasar. Kegiatan banyak pabrik di AS kini menunjukkan ekspansi yang baik.

Dari Eropa, muncul kabar bahwa sektor manufaktur dari 16 negara pengguna mata uang euro (zona euro) bulan lalu juga meningkat dari proyeksi sebelumnya. Ini menandakan bahwa ekonomi di Eropa mampu pulih lebih cepat dari perkiraan setelah mereka diterjang krisis utang.

Sejumlah laporan positif di sektor perbankan Eropa kini turut membuat antusias pasar setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami masalah akibat meningkat masalah utang di sejumlah negara di kawasan itu.

Dari China, muncul kabar bahwa pertumbuhan di sektor industri saat ini dinilai berjalan cukup baik. Situasi itu membuat Beijing tampaknya tidak perlu untuk melakukan langkah-langkah lanjutan untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi, seperti yang dikhawatirkan pelaku pasar saham manca negara.

Menurut pengamat, laporan-laporan itu mendongkrak kepercayaan pasar bahwa pertumbuhan ekonomi global terus berjalan setelah beberapa pekan terakhir dilanda ketidakpastian. Situasi ini mirip dengan transaksi Oktober 2009, saat harga minyak mentah di bursa New York melambung hingga US$80 per barel setelah berkali-kali merosot.

"Saat itu pakemnya beli dulu, bertanya belakangan," kata Phil Flynn, pengamat dari PFGBest.

Entri Populer